SINOPSIS
Kisah ini bermula, ketika Fariz yang dalam kesehariannya menghabiskan waktu dari café ke café untuk menjalankan bisnis yang lebih banyak mengandalkan sebuah laptop. Sesekali dihabiskan waktunya hanya untuk browsing dan chat FB-an
di internet.
Kondisi yang memilukan dalam pemenuhan kebutuhan hidup beserta keluarganya membuat seorang Fariz sering pulang malam dan tak karuan, sehingga melakukan kerja amburadul, yang penting baginya dapat duit.
Sekedar pembeli susu buat sikecil, bolehlah buat Fariz bekerja tanpa kenal waktu, Panas kepanasan, Hujan kehujanan bahkan sering kemalaman dan tidur tidak mengenal tempat, Istilahnya dimana ngantuk disitu tidur.
Setelah gagal disana-sini, bisnis hancur, kehidupan Fariz semakin memprihatinkan. Hingga akhirnya titik cerah kehidupan mulai Nampak ketika lewat Koran dan infotainment, Fariz menemukan info dan keberadaan 2 orang sahabatnya Poltak dan Sujono. Lewat media cetak Fariz mendapati Poltak sahabat karibnya semasa SMA selaku Seorang Pengacara Kondang. Serta via Media Elektronik Fariz mendapati Sujono selaku seorang CEO Pengusaha ternama.
Kembali terbayang dan terkenang di benak Fariz kisah Persahabatan mereka ketika SMA dulu.
Masa-masa kejayaan serta pergulatan suka duka Fariz, Poltak dan Sujono. Perkelahian hingga ke masa-masa menegenal cinta pertama mereka masing-masing.
Dengan sejuta senyum menghias di wajah Fariz ketika menceritakan semua yang akan merubah kehidupannya kini kepada istri tercintanya, Yuli. Dengan bangga Fariz member harapan kepada istrinya bahwa sebentar lagi kehidupan akan berubah, karena kedua sahabatnya itu telah menjadi orang hebat yang tentunya siap untuk membantu mereka.
Fariz berkutat untuk menemukan nomor telephone masing-masing sahabatnya Poltak dan Sujono.
Hingga akhirnya, dering telephone genggam Poltak bordering; namun yang terjadi diluar dugaan, karena sahabatnya tersebut sama sekali tidak mengenalnya, bahkan dengan sedikit mencaci poltak menutup telephonenya.
Fariz seakan tidak percaya, bahkan harapannya kini tinggal menghubungi seorang sahabatnya yang lain, Sujono. Dengan menarik nafas panjang; Fariz memberanikan menghubungi Sujono. Dan apa yang dialaminya, sama. Bahkan Sujono tidak bisa dihubungi dan tak mau bicara, karena yang dihubungi selalu diangkat oleh sekretaris Sujono.
Langit kembali terasa gelap, dan langkah gontai kini kembali menghiasi Fariz. Harapannya menemukan solusi dalam hidupnya dengan pengharapan pertemuan dengan kedua sahabatnya kini sirna. Namun Fariz tetap mencoba bangkit dan bertahan.
Hingga suatu hari, di penghujung jalan Fariz bertemu salah seorang rekan bisnisnya, Andi yang akhirnya mengajaknya ngopi bareng di Café Trader FPS.
Dari ajakan pertama tersebut, akhirnya membiasakan Fariz untuk sesering mungkin menghabiskan malam2nya di Café Trader FPS.
Aktivitas Fariz kini berganti, dengan keseriusannya menekuni profesi selaku Trader yang diajarkan Andi secara kontinyu dan penuh kesabaran, Fariz benar2 mencoba untuk menekuni secara serius dan lebih mendalam.
Ketekunan Fariz berbuah manis ketika Pimpinan Café Trader, memberi kepercayaan pada dirinya sebagai salah satu direksi. Pelan namun pasti karier Fariz di dunia trading telah mengantarnya untuk menjadi seorang yang senang menolong orang lain.
Sampai suatu ketika, Poltak dalam salah satu media diberitakan terkena kasus suap atas kasus yang ditanganinya. Begitupun Sujono yang akhirnya terjerak kasus korupsi atas peringai makelar project pemerintah yang menyeretnya sebagai salah satu tersangka.
Dalam proses hukum yang meneyeret kedua sahabatnya tersebut, Fariz kemudian tampil sebagai penjamin yang datang tepat ketika kedua sahabatnya tersebut membutuhkan seorang penjamin atas diri mereka. Dan suatu kejutan bagi kedua sahabatnya takkala Fariz tiba2 muncul kehadapan mereka satu persatu. Anehnya, tanpa dikomando, poltak sontak keheranan dan berteriak mengucapkan kesyukurannya terhadap Fariz, yang sungguh luar biasa langsung mengenali Fariz, sahabatnya yang telah di lupakannya. Begitupun halnya Sujono.
Suatu fenomena menarik ketika seseorang yang tadinya berada diatas kemudian menjadi sosok yang angkuh dan menjadi klimaks ketika semua kembali dinormalkan olehNYA bahkan dicabut kenikmatan, sebagai bentuk ketidaksyukuran atas karunia yang telah dilimpahkanNYA. Persahabatan Fariz, Poltak dan Sujono menjadi sebuah contoh, bahwa tidak selamanya kita berada diatas, ibarat roda, berputar sehingga ketika berada diatas, ingatlah bahwa kita pernah berada dibawah.
.jpg)